Feeds:
Posts
Comments

Jemari ramping terbalut kulit lembut itu kembali membalik-balikkan lembaran kertas bertulis kalimat. Kembali ia terpekur menunduk dengan mata sayu, rambut ikal sebahunya tergerai lunglai. Selembar kertas ia ambil. Sekilas ia membaca dengan seksama baris kalimat tulisan tangan itu.
“Kekasihku, selalu kau katakan bahwa sore adalah saat terindah dalam sehari semalam. Alangkah bahagianya a ku jika bisa temani kau seumur hidupku untuk menikmatinya”. Air mata perempuan beralis hitam pekat itu, mengalir pelan. Menganak sungai dipipi coklatnya.
Dengan pelan, diletakkannya kembali lembaran yang terlihat usang itu. Lembaran-lembaran yang pernah memberinya suntikan energi luar biasa dalam beberapa episode hidupnya. Sesaat ia menatap cahaya kemerahan di ufuk barat. Sorot matanya mengarungi bias-bias cahaya kemerahan yang menerobos diantara pohon-pohon akasia didepannya. Kemudian ia kembali mengambil lembaran selanjutnya. Kali ini membacanya dengan kepala menyandar pada tiang besi disampingnya. Disibakkannya anak rambut yang menggelantung dikeningnya.
“Sayang, satu hal yang ingin kuberikan kepadamu, sebuah tahta indah dihatiku yang hanya kau pemiliknya. Kebahagiaan yang selalu menjadi impianmu, dengan segenap jiwa akan kuberikan. Tak akan kubiarkan setetes air mata kesedihan tertumpah dari dua bening matamu. Meski dengan cara yang sederhana, aku ingin kau tahu semua itu tulus aku lakukan karena aku menyayangimu”. Perempuan bermata coklat itu mengusap pelan lembaran yang juga sudah kumal itu. Kumal dan berwarna suram. Ia menciuminya disela isaknya. Tak ada suara tangis keluar, hanya isakan kecil dan buliran air mata.
Ia tegakkan kepalanya yang berambut ikal. Dihadapkannya pada langit merah bergurat awan putih. Hei ! Membentuk mendung itu membentuk wajah. Sebentuk wajah yang dulu mengukir kata dalam kertas lusuh yang ada dipangkuannya. Iya, wajah dari lelaki yang disebutnya sebagai kekasih. Kata itulah yang pantas mewakili perasaannya yang meluap-luap terhadap seseorang yang pantas menerimanya. Kekasih. Sungguh indah.
Kembali matanya menerawang ke arah cahaya yang semakin memerah diisekitarnya. Ah, tiba-tiba gumpalan sebentuk wajah dari awan itu buyar. Perempuan itu, yang senantiasa menghabiskan waktu senjanya untuk menatap senja sore hari dengan setumpuk kertas berhias kalimat dipangkuannya. Baju yang ia pakai pun juga hampir sama. Tidak jauh dari blouse warna putih longgar dengan renda menghias disekitar dadanya serta pangkuan yang selalu tertutup kain tebal berwarna senada.
Satu hal dalam pikirannya saat duduk sendiri bermandi cahaya sore hari, tentang kekasih. Tentang sesuatu yang pahit dan menyedihkan dan pernah ia berikan kepada kekasihnya dulu. Tentang keindahan yang hingga kini terus menyiksanya. Tentang kasih sayang yang hingga kini tak pernah bisa enyah dari hatinya. Tentang mimpi-mimpi yang pernah ia bangun bersama dengan kekasihnya dulu.
Dan kenangan indah membangun masa depan bersama, kini terus menghantui pikirannya. Kini bayangan indah itu menjadi nyawa bagi keberlangsungan hidupnya saat ini. Hidup yang ia pilih untuk tetap sendiri menikmati sore yang indah. Tanpa kekasih.
Sekarang perempuan itu mengambil lembaran selanjutnya yang kini agak bersih dan tidak kumal. “Banyak hal yang ingin kuberikan kepadamu kekasihku tersayang. Sesuatu yang abadi dan tak pernah habis, karena aku tahu kau pantas menerimanya. Karena kita adalah sepasang kekasih. Aku tahu dunia tak akan cukup untuk kuberikan kepadamu. Tapi aku tahu, bukan itu yang kau inginkan. Seperti memandang laut yang luas dan tenang, seperti itulah kedamaian yang hendak kuberikan. Seperti melihat bunga mekar dipagi hari, seperti itulah keindahan yang hendak kupersembahkan. Seperti meneguk air di tengah padang pasir, seperti itulah akan kuhilangkan dahagamu. Seperti anak kecil diberi kembang gula, seperti itu lah kebahagiaan yang akan kuberikan. Begitu banyak hal bukan yang ingin kulakukan kepadamu, kekasih. Sungguh banyak”
Kini perempuan itu menutup wajahnya dengan ke dua telapak tangannya. Kedua pundaknya tampak terguncang pelan. Rambut ikalnya sebagian menutupi wajahnya yang agak bersemu merah dan sembab.
“Maafkan aku. Maafkan aku…” desahnya disela isak tangis yang tertahan. Tiba-tiba ia merasa menjadi makhluk yang lemah namun jahat. Mahkluk kejam, sekejam Lucifer. Seandainya bisa, saat itu juga ia ingin melepaskan nyawa dari raganya. Siksaan batin yang ia jalani hingga detik itu, sungguh menyayat-nyayat hatinya. Kejahatan yang telah ia lakukan, sungguh membuatnya sekarat.
Ya, sebuah kejahatan yang menyebabkan keruhnya kehidupan seorang kekasih. Kejahatan yang diskenariokannya menjadi hal terbaik bagi dirinya dan kekasihnya. Tidak adil memang. Tapi itu yang terbaik. Tentu baginya.
“Kuharap, apa pun yang terjadi dengan diriku atau pun dirimu, kekasihku, tidak akan bisa merubah hati dan jiwa kita yang telah menyatu. Tak perlu ada orang untuk bersaksi, karena seluruh isi langit dan bumi bisa mendengar dan tahu hati sepasang kekasih. Karena kita tidak butuh pengakuan, bahwa kita telah menyatu dalam perasaan, jiwa dan komitmen”
“Oh, tidak. Maafkan aku Genta. Maafkan atas pengkhinatan yang pernah kita ikrarkan…” kini buliran air mata perempuan itu semakin berderai-derai. Lembaran-lembaran yang tadi tersusun rapi dipangkuannya, kini beberapa lembar sudah mencium tanah. Mata kecil nan berair itu menatap sesorot cahaya merah yang jatuh dipangkuannya dari sela rimbunnya pohon disekitarnya.
Sejenak ia mendongak. Menatap lurus ke arah asal cahaya yang mengirim guratan-guratan itu. Apa yang ia lihat ? Seperti sebentuk wajah sendu seorang lelaki yang tersenyum samar. Senyum yang tak ada kebencian. Senyum tulus kekasih yang pernah menghiasi hidupnya. Sesaat perempuan itu bercengkrama dengan halusinasinya. Menikmati kembali bangunan yang dulu pernah ia rancang.
“Kenapa kau tinggalkan aku…?” tanya sebentuk wajah itu dengan suara parau.
“Apakah kau masih meragu dengan ucapanku. Percayalah, Yohana, aku menyayangi mu dengan tulus. Aku mengasihimu dengan ihklas. Semua telah kuberikan Yo. Lalu mengapa kau pergi Yo. Aku terlunta-lunta Yo. Sendiri, kau dimana,” ucapan itu semakin pelan dan mengecil.
“Mbak Yo ! “ tiba-tiba suara seorang gadis muda berbadan gemuk membuat perempuan yang dipanggil sebagai mbak Yo, terperangah. Gadis berbadan gemuk itu nampak menyesal membuat perempuan itu kaget. Buru-buru ia mendekat dengan tergopoh-gopoh.
“Maaf mbak Yo, mengagetkan. Sudah hampir malam, nanti mbak Yo masuk angin. Hampir tiap sore mbak Yo duduk di sini, saya khawatir nanti sakit. Apalagi akhir-akhir ini cuaca agak dingin dan turun kabut tiba-tiba” perempuan bernama Yohana hanya tersenyum tipis. Betul. Akhir-akhir ini kabut sering turun mendadak di senja hari. Kadang dengan berani langsung menutup langit yang masih dihiasi mega. Namun hal itu tidak mengurangi keindahan senja hari miliknya.
Dilihatnya gadis gemuk itu memunguti kertas-kertas yang berserakan di dekat kakinya dengan pelan. Seolah ia tak ingin tersobek sedikit pun dibagian-bagian yang mulai usang dan lembek.
“Terima kasih Dewi. Ayo kita masuk,” kata perempuan itu sambil mendekap didadanya lembaran-lembaran yang sudah diserahkan gadis yang dipanggilnya Dewi.
Dengan segera gadis muda beradan gemuk itu, menggeser kursi roda yang menjadi tempat duduk mbak Yohananya. Sesaat ia membetulkan letak kain warna krem yang sedikit menjuntai dari pangkuan Yohana.
“Dew, apakah Genta akan mengerti mengapa aku meninggalkannya. Apakah kira-kira ia akan membenciku seumur hidupnya. Apakah kira-kira ia masih ingat dengan aku. Oh Dew, seandainya aku tidak terpasung di benda ini” ucap perempuan senja hari itu diakhiri dengan desahan. Gadis muda berbadan gemuk itu terus mendorong kursi roda yang meninggalkan bunyi kriet-kriet. Sementara cahaya senja hari mulai tertutup kabut pelan-pelan. Kabut yang seperti diceritakan Dewi sebelum mendorong kursi roda Rindu memasuki kamarnya.

Tak ada lagi yang bisa kulakukan saat ini. Semua begitu gelap dan pekat. Seolah semua jalan terhalangi tembok besar yang tebal. Suaraku pun tak bisa meresap ke butiran-butiran halus yang padat itu. Sinar matahari yang sejak tadi terasa panas dikulitku, semakin tak bisa kurasakan. Waktu yang sejak tadi berjingkat menjauh, seolah melaju semakin cepat. Ingin sekali mengejar, tapi langkah kecilku tak bisa diajak kompromi.
Aku semakin bingung. Lorong-lorong gelap satu persatu muncul dibenakku. Gelap dan hampa. Tak ada setitik cahaya. Tak ada tanda hidup. Kegalauan yang menyiksaku akhir-akhir ini, semakin membuatku tak berdaya. Aku semakin terbenam dalam kalut. Keinginan-keinginan gila menjejal dalam hatiku. Rencana-rencana gila menghantui pikiranku. Aku limbung, hanya terpekur diatas bed yang semakin menipis.
Suara-suara yang sejak tadi berdesingan melewati gendang telingakku, tiba-tiba berhenti begitu saja. Sejenak aku memamasang pendengaran lebih seksama. Mencari suara-suara yang sejak tadi lekat dengan telingaku. Tak berhasil.
Aku berdiri dengan cepat dari ranjangku, melangkah menuju balkon kamarku yang berada di lantai tujuh apartemen ini. Aku kaget dan tersentak. Aku berlari lagi ke arah kiri dari balkonku. Lalu ke arah kanan. Semuanya sama. Terlihat dimataku, kendaraan berhenti ditengah jalan. Mobil, sepeda motor, bus, taksi, bemo, truk-truk dan semua penghuni jalan raya.
Kuperhatikan traffic light. Dalam posisi warna hijau, tetapi kenapa tidak segera berubah. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, dua puluh menit. Kenapa terus berwarna hijau. Kulempar pandanganku ke beberapa trotoar yang terlihat dari ballkonku. Sama. Mereka juga terdiam dalam aktifitas terakhirnya. Seorang perempuan meletakkan ponsel didekat telinganya, pria berbadan gemuk melihat kepergelangan tangannya, anak-anak sekolah yang bergerombol masih dalam posisi wajah tertawa dan tersenyum. Dan semua pejalan kaki ditrotoar berhenti total. Tiba-tiba mataku tertumbuk pada seorang pedagang es kelapa muda keliling yang biasanya nongkrong didepan apartemenku. Posisinya sedang memegang gelas dan menumpahkan air kelapa ke dalamnya. Air kelapa itu pun tampaknya juga berhenti.
Aku panik. Sekilas aku melihat matahari. Masih panas. Tapi pancarannya terasa lain dikulitku. Aku menoleh kepergelangan tanganku. Gila ! Juga ikut berhenti. Ada apa ini. Aku berlari masuk kamarku lagi. Tanpa sengaja aku menyenggol gelas didekat meja riasku. Aku tercekat. Gelas itu tidak jatuh dan menyentuh tanah. Tapi berhenti begitu saja diawang-awang. Aku tergidik. Lalu aku berlari ke arah pintu keluar. Sejenak aku menoleh kanan kiri. Oh Tuhan, apa gerangan yang terjadi. Kulihat Ellin temankku baru keluar dari lift. Bu Sesil sedang terhenti juga dalam posisi membawa kantong besar berisi sampah menuju lift turun. Garda memegang tas besarnya terhenti dalam posisi membuka tas.
“Ellin ! Ellin ! Ada apa ini ? Ini aku Lara !” aku menggoyang-goyang tangan Ellin. Tak ada reaksi. Lalu aku berlari ke arah Garda, lelaki berbadan tegap dan berkulit putih ini juga tidak memberi reaksi ketika kutepuk-tepuk bahunya. Semuanya tidak memberikan reaksi. Namun, nafas mereka semua terdengar teratur dan biasa saja.
Akhirnya dengan telanjang kaki dan berpiyama aku berlari menuruni tangga, karena lift juga dalam posisi tidak aktif. Pemandangan sama pun juga terlihat diisetiap tangga. Aku seperti semakin gila. Ada apakah gerangan. Apakah sudah kiamat atau aku yang sudah gila ! Tak henti-hentinya aku bertanya. Hatiku hanya dipenuhi dua kata. Ada apa ?
Tiba dihalaman apartemen nafasku memburu. Peluhku bercucuran. Dan menetes, tapi tiidak menyentuh tanah. Aku memegang kepalaku. Sejenak kuacak rambut panjangku dengan kasar. Persendianku terasa lemas. Semua berhenti. Aku berllari kecil ke arah jalan raya. Orang-orang yang duduk dalam kendaraannya juga terdiam dalam aktifitas terakhir. Hening. Senyap. Tak ada tanda kehidupan.
Aku kembali ke halaman apartemen dengan langkah lunglai. Aku terduduk lemas ditengah halaman.
“Oh Tuhan ! Ada apa ini ! Apa yang terjadi !” aku berteriak sekeras-kerasnya. Hanya gaungan suaraku yang kudengar. Dunia seakan mati. Dan aku merasa akulah satu-satunya mahkluk hidup yang tinggal di bumi. Kulihat Bu Artika sedang menyuapi anaknya di kursi mainan. Ia juga diam dengan posisi menjongkok hendak memasukkan makanan ke mulut Khansa, putri kecilnya.
Tak ada angin. Tak ada suara. Semua diam. Hanya ada detak jantung. Aku terbaring lemah ditengah halaman yang biasanya tak pernah sepi dari seribu satu aktifitas. Kutantang matahari dengan mataku. Kenapa mataku tidak merasa silau. Bahkan dengan jelas bisa kulihat bulatan batas garis matahari yang menggantung tepat diatasku.
Kulihat matahari tersenyum. Aku terperangah. Aku ingin bangkit dan berdiri, tapi badanku terasa tak bertulang. Aku tetap tergolek ditengah halaman. Pelan-pelan matahari semakin jelas tersenyum padaku.
“Ini bukan yang kau inginkan ?” tiba-tiba matahari itu bersuara, seperti memancar dari penjuru langit. Menghujam dan memantul disetiap tembok bangunan disekitarnya. Aku mengucek-ucek mataku sesaat lalu, ke telingaku.
“Kau ingin dunia tahu bukan, bahwa kau masih bisa berkuasa di ruang hampa hatimu. Dan kau ingin agar dunia mengerti hatimu. Tak ada suara. Tak ada aktifitas. Tak ada kekacauan. Tak ada gangguan dan tidak ada segala yang membuat hatimu terusik. Dunia seperti yang kau inginkan sekarang,” aku ingin bersuara, tetapi tenggorokanku tercekat.
Matahari itu semakin mendekati aku, tak terasa panas dikulitku. “Tenang. Indah. Damai dan mempesona. Kau bisa menjadi ratu disini. Kau bisa mengisi kekosongan hatimu dengan apa yang kau mau tanpa seorang pun mengganggu. Kau bisa melakukan apa yang bisa membuatmu puas dan kau tertawa lepas. Lakukan apa yang hendak kau lakukan. Puaskan hatimu. Lepaskan bebanmu. Ubah dunia ini sesuai dengan rencanamu,” aku ingin sekali bersuara. Ingin sekali.
“Tidak ! Bukan ini yang kau inginkan. Enyahkan hampaku, enyahkan kekosonganku, enyahkan rasa sedihku, enyahkan ! Enyahkan semua ! Aku sudah tidak tahan lagi!” tapi kalimatku hanya tertahan sampai ditenggorokan.
“Bukan aku yang bisa melakukannya. Juga bukan dunia, juga bukan alam dan juga bukan sesamamu. Tapi hatimu, jiwamu, pikiranmu, perasaanmu dan keinginanmu,” suara matahari itu seakan membaca pikiranku. Kurasakan ia mengelilingi tubuhku yang masih terlentang. Kurasakan sinarnya sejuk dan segar. Tidak panas. “Lihat ! Apa yang bisa kau hasilkan dengan jiwa hampamu, pikiran kalutmu dan hati kosongmu. Kesia-siaan. Tidak berguna mahkluk sepertimu di bumi,” katanya dengan nada sesal.
Perlahan-lahan matahari dan suara itu menjauh ke atas. Semakin naik dan naik. Dan terasa kulitku pun semakin panas luar biasa. “Hei ! Kembali ! Siapa kau ? Mau kemana kau !” dan secara tiba-tiba pula suaraku muncul lagi. Matahari semakin jauh, mataku tak bisa lagi melihat garais batas seperti semula.
Ia masih terlentang tak berdaya. Apa yang baru saja terjadi. Kenapa aneh dan mengesankan. Pergulatan hebat terjadi dimimbar pikiranku.
“Ra ! Lara ! Ada apa kau terbaring disitu” tiba-tiba sebuah suara terdengar agak jauh. Aku tersentak kaget dan langsung bangun. Baju piyama tidurku basah keringat. Kulihat Pak Ramlan satpam Apartemen ini berdiri berkacak pinggang didekatku. Dan beberapa orang-orang yang tadi kulihat berhenti dari aktifitasnya, kini turut menjadi penonton tubuhku. Aku bangkit. Kuamati wajjah mereka satu persatu. Tak ada gurat khawatie di wajah mereka, tak ada tanda tanya besar dari wajah mereka, tak ada keheranan dari merekka. Mereka semua terlihat biasa saja seperti tak terjadi apa-apa.
“Kalian baik-baik saja ?” tanyaku menyelidik.
“Justru kamilah yang harus bertanya kepadamu, ngapain siang bolong gini berbaring dihalaman. Kurang kerjaan, ucap Garda yang ternyata sudah didekatkup. Percuma kepada mereka.
Aku segera berlari menuju kamarku dengan lift, semua sudah normal. Aku semakin bingung dan linglung. Apa yang terjadid denganku. Dengan kasar kubanting pintu kamarku dan menelungkupkan diri diatas lantai marmer hitam kamarku. Tiba-tiba tak ada sunyi dihatiku.

Kuperhatikan lagi wajah milik perempuan anggun itu. Dalam diamnya yang seperti gunung es itu, sepertinya tak pernah terpancar sedikitpun kesedihan. Dalam kesulitan hidup yang senantiasa mengungkungnya (kudengar gosip ibuku) ia tak pernah mengeluh. Dalam kesakitan yang mendera hati dan perasaannya ia tak pernah merintih (bila kulihat dari aura wajahnya). Ia nikmati irama hidup yang ada. Dia memang perempuan yang luar biasa, yang selalau bisa menyabarkan diri ketika datang cobaan, yang selalu tersenyum bila orang menggunjingnya, yang selalu berkata penuh kasih bila berbicara dengan siapa saja. Setidaknya itulah yang dikatakan Ibuku hampir tiap hari, ketika aku bertanya tentang perempuan itu. Dan aku makin pensaran saja dengan latar belakang kehidupannya. Dan figur seorang wanita ideal dan sempurna mulai terlukis di benakku melalui perempuan itu.
Setiap berangkat kerja dipagi hari, ia selalu berjalan melewati depan rumahku. Dan saat itulah kesempatanku mengamati wajah itu, yang menurutku menyimpan berjuta misteri. Misteri gelap yang menyelubungi kedua matanya yang kata ibu seperti Bintang Timur dan aku setuju. Walaupun aku sendiri belum tahu bentuk dan wujud dari bintang timur itu. Tapi, persetujuanku itu bukan karena matanya yang seperti bintang timur, mungkin karena ia selalu lewat depan rumahku dari arah sinar matahari terbit. Senyumnya yang pertama kali dilemparkan kepada ibuku ketika duduk denganku diteras, kini juga beralih padaku. Senyum yang membuatku terhanyut, dan ibu selalu berdehem keras bila aku terlalu lama mengamati dan menikmati senyum dan wajah perempuan itu. Dia tidak cantik tidak juga jelek, wajahnya bernuansa aristokrat !. Rambut panjangnya yang selalu terurai , mengkilap karena ditimpa sinar matahri. Sekilas mirip artis Ayu Azhari. Kata Ibu perempuan itu hidup sendirian dirumahnya yang mungil dan kadang dipenuhi anak-anak kecil. Selidik punya selidik, ternyata ia bekerja dan mengabdikan dirinya pada sebuah panti asuhan di kota ini.
Dan aku semakin penasaran saja dengan kesendiriannya, yang kalau kutaksir umurnya sudah kepala tiga. Apa yang dikepala perempuan itu, hal apa yang dipikirkannya setiap bangun dipagi hari, apa yang ia pikirkan pada usia seperti itu. Apakah masih sibuk mencari jati diri ? Mencari makna hidup ? Mengetahui tentang hakikat manusia ? Atau mencari keinginan ultimnya ! atau…. Ah ! Pikiranku semakin kusut saja. Atau jangan-jangan…..pikiran jelekku mulai berdatangan.
Pernah suatu kali aku melihatnya duduk sendirian dimalam hari diteras rumahnya yang sengaja dimatikan lampunya. Entah kenapan saat itu pandangan mataku begitu tajam menangkap bayangan tubuhnya yang tercipta karena remang sinar cahaya bulan. Aku pura-pura tidak melihatnya saat itu dan aku yakin perempuan itu melihatku, dan aku terus melangkah pulang menggandeng tangan Abil, keponakanku. Dalam langkah pulang itulah aku berpikir, mencoba menembus alam pikirannya dan mengaduk-aduk apa yang ada disana, apakah dirinya sendiri yang mengaspirasikan kepada pengabdiannya, atau merupakan sebagai sarana berkehendak. Keriangan, kelincahan dan kegesitan ditengah-tengah bocah-bocah tak berdosa itu, apakah murni dari dalam dirinya, atau jangan-jangan sekedar topeng untuk menutupi sesuatu peristiwa buruk yang telah menimpanya.
Ibu selalu heran tak berkesudahan, tentang keinginanku untuk tahu lebih banyak tentang sang Bintang Timur itu. Oh ya, ibu juga tak tahu persis siapa nama perempuan itu, ibu lebih suka memanggilnya mbak Ayu saja ! dan mungkin hanya pak RT saja yang tahu.
“Jangan-jangan kamu jatuh cinta sama mbak Ayu Pram !?” aku hanya tersenyum lebar ketika mendengar ucapan ibu. Bukan ! Ini bukan cinta ! Aku berani meyakinkan, ini bukan cinta !. Bagiku keagungan cinta adalah dalam memilih obyek untuk dicintai tanpa memaksa atau merusak, dan yang bernilai cinta ialah yang menjadikan agung siapa yang mencintainya. Ah ! Cinta. Sesuatu yang absurd dan indah. Dan…kepada sang Bintang Timur, aku hanya kagum !
Tadi pagi ia berjalan dengan seorang gadis kecil yang cacat sebelah tangannya. Dengan penuh sayang ia rangkul si kecil itu. Dan seperti biasa, lemparan senyumnya selalu menambah nikmat teh buatan ibu yang ada didepanku. Dan aku juga akan selalu mengangguk seperti kemarin. Sang Bintang Timur ini memang lain dari perempaun yang ada di kompleks perumahan ini. Kata Ibu ia tak pernah ikut bergerombol disalah satu pagar rumah tetangga yang berjejer rapi itu utnuk bergosip. Ia tak pernah aktif diarisan dan acara kumpul ibu-ibu. Jarang sekali berkunjung ketempat siapapun ! Dan kesimpulanku, ia tidak suka berinteraksi dengan lingkungan di kompleks ini. Ada apa ? Aku harus tahu ! Seminggu lagi cutiku sudah habis, dan harus segera balik ke Jogja ! au harus tahu semuanya !
Dengan alasan minta program kerja dari yayasan Panti Asuhannya untuk dipelajari kemudian dipertimbangkan untuk dibantu pendanaannya oleh perusahaanku, aku datang kerumahnya. Tak kudengarkan suara Ibu yang meledekku habis-habisan dengan Abil tadi pagi. Jam tiga sore aku sampai dihalaman rumahnya yang asri. Senyum yang biasa kunikmati tiap pagi, kini menghadang didepanku. Dan….sialan ! Dia memanggilku Dik ! Dik Pram ! Apakah dia sudah merasa lebih tua dari aku !. Tapi biarlah, tak jadi masalah, bagiku menikmati kemerduan suaranya dan keanggunannya dalam bersikap membuatku nyaman berada diruang tamunya yang menawarkan suasana kekeluargaan dan keramahan.
“Saya tahu. keberadaan saya di kompleks ini tidak begitu dikenal oleh siapapun. Dengan ibu dik Pram itupun, kenalnya hanya kebetulan ketika bertemu di Toserba. Mungkin saya tipe perempuan yang over introvert ! Tapi saya merasa nyaman seperti itu dik Pram !” ucapan ‘Dik Pram’, seakan menohok dadaku.
“Jangan berprasangka saya adalah wanita dengan masa lalu yang kelabu, wanita yang kesepian dan terbuang dari keluarga …” dia bisa membaca pikiranku rupanya.
“…tidak dik ! Ini adalah keinginan pribadi saya setulusnya. Di dunia seperti inilah saya bisa bahagia, ditengah anak-anak tak berorang tua dan tak bersaudara. Disinilah saya bisa mencintai dengan tulus dan tahu makna keindahan dalam cinta dan hidup. Saya ingin menciptakan dunia kecil saya seperti ini. Saya selalu berdoa, bahwa apa yang saya lakukan ini ikhlas, karena pada nilai keikhlasan ada nilai ketenangan dan keteguhan hati, dan yang lebih fundamental adalah kerendahan hati dan kedermawanan. Apakah yang saya lakukan ini kebaikan ? saya tidak tahu. Karena yang saya tahu, tanpa kebaikan tak ada jalan, sebaik apapun kualitas sarana spiritual kita, kebaikan secara langsung adalah keikhlasan dan tak secara langsung adalah kejujuran. Dan diantara anak-anak malang itu telah saya temukan cinta, kebaikan, keindahan. Mungkin saya adalah orang yang naif, tapi….seperti itulah yang saya inginkan. Kerendahan diri, kasih sayang dan kemurahan hati mereka, tulus tanpa ada tendesi macam-macam !walaupun mereka tak punya orang yang mencintainya dengan tulus seperti orang tua, tapi mereka tak pernah ingin menyakiti hati orang lain…” aku semakin terpana dalam untaian kalimat yang keluar dari bibir sang Bintang Timur ini. Aku hanya mengangguk, tersenyum dan terkadang bengong.
“…kebaikan yang tak nampak dari anak-anak itu sungguh agung. Karena bagian dari kebaikan adalah kehendak atau niat untuk merealisasikannya, sehingga kebaikan yang essensial adalah kondisi sekaligus hasilnya. Tuhan tidak pernah meminta kesempurnaan yang memang diluar jangkauan kemampuan kita, melainkan Ia menuntut kepada kita niatnya, yang mengimplementasikannya jika memang tulus. Orang yang angkuh seperti saya ini….” aku tersenyum sesaat sambil menatapnya tajam.
“…tidak akan mampu melaksanakan kerendahan hati yang tulus dan ikhlas, oleh sebab itu saya belajar untuk tidak menjadi orang yang angkuh. Tuhan meminta kepada kita apa yang telah Ia berikan, yaitu kualitas yang terkandung dikedalaman diri kita. Manusia harus menjadi apa adanya, karena setiap wujud secara fundamental adlah wujud itu sendiri. Maaf dik Pram..bukan berarti saya sok ikhlas, sok baik, atau sok murah hati ! Tapi itulah keinginan-keinginan yang ingin saya capai sekarang dan nanti. Dan…segala apa yang saya ucapkan tadi jangan dianggap nasehat atau ceramah. Mungkin dik Pram bosan ya ?! Anggap saja itu, gagasan-gagasan utopis saya selama ini…” aku tersenyum lebar. Tepat jam lima, kutinggalkan rumah sang Bintang timur yang ternyata bernama Lintang Serosa, dengan perasaan tenang. Masih banyak tanda tanya dikepalaku, tapi…ah, sudahlah, setiap pernyataan tak membutuhkan solusi. Hei…Bintang Timur ! Keindahan, kebahagiaan, cinta. Manusia mencari kebahagiaan karena keindahan, yang tercipta dari kecantikan dan cinta semua itu adalah substansi dasarnya sendiri. “Seluruh pemikiranku berbicara tentang cinta” ucap Dante dalam pengertian duniawi dan surgawi.
Tutthi miei pensier parlan d’amor.

WARISAN

ORANG-orang dikampungku tahu, Ibuku bukan orang yang pelit. Orang sekampung pun juga tahu, kami bukan keluarga yang miskin-miskin amat namun juga tidak kaya-kaya amat. Tetapi orang-orang di desa selalu semangat memetik padi untuk keluarga kami jika masa panen tiba. Bahkan cenderung rebutan !
Karena ibu selalu memberi upah padi berlebihan bagi warga yang gepyok di sawah kami. Katanya, kami harus bersyukur diberi rezeki bisa memiliki tanah sawah sendiri dan tidak mburuh pada orang lain. Kami adalah keluarga yang hidup di desa dengan kemapanan khas orang desa. Hidup bersama beberapa petak sawah dan kebun palawija.
Namun, hingga sebulan setelah kematian ibuku, rasanya aroma kedermawanannya tidak berkeliaran di rumah ini. Saat aku membongkar-bongkar almari pakaiannya, tak kutemukan satu pun barang berharga macam emas atau apa lah !
Bahkan aku baru tahu, kalau baju-baju yang dipakai ibuku selama ini adalah baju terjelek yang ia punyai. Saat aku membongkar almarinya, banyak kutemukan beberapa potong baju dan lembaran-lembaran kain yang baru dan utuh. Dan seingatku tidak pernah dipakai. Ada kebaya, kain panjang, setelan baju kurung, kain batik, beberapa kutang warna hitam dan coklat tua bermerek Best Quality.
Kubongkar-bongkar lagi seluruh sudut almari ibuku. Dengan harap-harap cemas menemukan benda berharga yang bisa kuwarisi. Bagaimana pun juga, sebagai anak bungsu aku merasa berhak mendapat warisan dari ibuku sama seperti kakak-kakakku yag sudah menikah. Apalagi, aku yang paling sering menemani ibu di saat-saat sakit dan menjelang kematiannya. Meski kadang-kadang pembantu rumah tangga kami Mak Nem ikut menemaninya.
Nah, kakak-kakakku ? Dengan alasan sibuk bekerja atau ngurus keluarganya, mereka jarang menjenguk apalagi menemani saat di rumah sakit. Lagi-lagi dengan alasan aku masih lajang dan belum punya kesibukan berarti, menyerahkan perawatan almarhum ibuku padaku.
Dan sepertinya ibuku tidak mengingat jasa baik anak bungsunya ini dengan tidak meninggalkan warisan yang membuat hidupku bisa tenang. Kakak lelaki pertamaku dan kedua mendapat beberapa petak lahan sawah yang aku sendiri tidak tahu luasnya. Kakak lekaki ketigaku mendapat jatah rumah yang sekarang masih aku tempati ini dan konon katanya akan dibagi denganku saat aku sudah menikah.
Ah ibuku ini benar-benar keterlaluan ! Kami empat bersaudara dan rasanya, ibu pilih kasih dalam membagi perhatian serta kasih sayang. Saat masih hidup, Ibu lebih memperhatikan kakak-kakakku secara berlebihan dengan alasan beban mereka sudah berat karena sudah berkeluarga.
”Kamu kan masih lajang, Nduk. Baru SMA kelas tiga. Lah, dan mas-mas mu itu kan sudah berat beban hidupnya. Jadi ya wajar kalau ibu peduli dengan mereka. Nanti kalau kamu sudah berumah tangga, pasti juga akan lebih ibu pedulikan. Iyo tho?,” selalu itu yang dikatakan ibuku kalau aku protes atas perhatiannya yang berlebihan.
Bagaimana tidak berlebihan ? Hampir tiap bulan ibu selalu mengirimi kakak-kakakku beberapa karung beras bahkan seperti sudah menjadi jatah tetap mereka. Ya, meski beras itu tidak beli karena panen sendiri, namun aku tidak setuju dengan tindakan memanjakan itu. Sesekali tak apalah. Lha ini, setiap bulan !
Tidak itu saja, kalau keluarga kakakku datang ke rumah bersama anak-anaknya, maka tempat utama di adalah dapur. Dengan alasan ada cucunya yang datang, ia rela mengurung diri di dapur bergulat dengan macam-macam bumbu dan masakan. Lha, kakak iparku dan suami serta anak-anaknya hanya ongkang-ongkang. Siapa yang tidak geregetan melihat tingkah memuakkan itu !
Dan kalau kutegur, dengan kalem ibu akan menjawab, ”Mereka kan sudah bekerja keras demi keluarganya Yun. Jadi dengan datang ke rumah ini, mungkin mereka ingin mengistirahatkan badan dan pikirannya,” dan aku hanya mendengus kesal mendengar jawaban malaikat itu.
Sejak kematian Bapak beberapa tahun lalu, ibu memang terlihat lebih pendiam dan lebih banyak mencurahkan perhatian kepada cucu-cucu dan kakak-kakakku. Di rumah ini hanya ada aku dan ibuku serta seorang pembantu yang kurang pantas bila dikatakan pembantu. Mak Nem, dia sudah lama ikut keluarga ini dan sudah seperti batih sendiri. Maka kesunyian di rumah yang terbilang luas ini kian lengkap saat malam hari menjelang.
Dan kini, setelah ibuku tiada seluruh sudut-sudut rumah ini hanya berhias kesenyapan. Hanya terdengar suara jangkrik mengerik, sesekali bunyi tokek berkepanjangan. Dulu saat kami semua masih berkumpul, kami selalu mengharapkan bunyi tokek datang. Apalagi jika diantara salah satu anggota keluarga kami sedang bingung memutuskan sesuatu, maka bunyi tokek akan menjadi pelipur lara.
”Tekeeeek……..” maka kakakku langsung menyahut ”Jadi”, ”Tekeeeeekk” lalu menyahut lagi ”Tidak”, ”Tekeeeeeeekk” menyahut lagi ”Jadi” begitu lah hingga bunyi tokek hilang. Dan pada bunyi terakhir tokek itu lah yang membuat kami semua riuh dan berdebat atas keputusan tokek tadi.
Bahkan yang lebih konyol lagi, kakak pertamaku Mas Bram sering menggunakan media suara tekek itu untuk meramal peruntungan ekonomi masa depannya. ”Tekeeeeeek….” maka dia langsung menyaut ”Sugih”, ”Tekeeeeeeek..” dia menyaut lagi ”Mlarat” , ”Tekeeeekkk,” Sugih, begitu seterusnya hingga bunyi terakhir tokek di kata apa maka kami semua langsung mengolok-ngoloknya.
Yang tidak kalah menjengkelkan juga di rumah yang luas ini adalah tikus. Apalagi di belakang rumah ini ada lumbung padi, lumbung kebanggan bapak dan ibu semasa hidup. Di lumbung itulah hasil panen musim ini disimpan untuk dikonsumsi sendiri atau dijual jika butuh uang, hingga musim panen berikutnya.
Akibatnya tikus-tikus itu benar-benar bisa mati di lumbung padi karena tempat itu memang tidak pernah kosong.
Kata bapakku, hidup di desa membutuhkan kearifan dalam mengelola harta benda berupa hasil bumi. ”Apalagi bapakmu ini petani, dan dari situlah kamu dan mas mas mu bisa sekolah sampe jadi sarjana. Kalau tidak hati-hati mengatur panenan, bisa-bisa kalian tidak bisa sekolah,” kata almarhum bapakku suatu ketika saat aku protes padi sebanyak itu kok disimpan terus. Kenapa tidak dijual saja.
Dan bapakku memang benar, padi yang ia simpan di lumbung itu seperti tabungan. Kapan pun ia butuh uang untuk sekolah dan kuliah kakak-kakakku, maka berkarung-karung gabah akan dikeluarkan dari sana dan dijual ke tengkulak. Begitu seterusnya hingga ia meninggal dan tinggal aku yang belum mentas.
Kii ibu pun sudah menyusul bapak. Pembagian warisan sudah dilakukan berdasar wasiat ibu dari almarhum bapak. Tanah-tanah sawah itu mungkin tidak akan berbulir lagi. Lumbung padi yang selalu penuh di belakang rumah mungkin akan kosong seterusnya. Ya iyalah ! Mana mau kakak-kakakku mengolah sawah menanam padi lalu panen menjemur dan menyimpan di lumbung. Apalagi dia sudah mapan bekerja di Jakarta. Jadi kemungkinan besar berpetak-petak sawah itu akan dijual. Dan berakhirlah masa kejayaan keluarga Notosuman di desa ini.
Sejak aku membongkar-bongkar almari ibu tadi, hanya satu yang kupikirkan dan kutakutkan. Bagaimana kalau kakak ketigaku, Mas Narno yang menerima warisan rumah ini akan menjualnya ? Aku harus pergi kemana ? Apalagi sebentar lagi aku mau lulus SMA dan aku ingin melanjutkan kuliah seperti pesan almarhum bapak dan ibuku.
Bagaimana kalau semua kakakku bersekongkol menjegal amanat bapak dan ibu ? Duh Gusti ? Bagaimana kalau itu terjadi. Lalu aku akan dijodohkan dan dipaksa menikah lalu di usir dari rumah ini ! Oh….mengerikan sekali. Duh..Ibu, kenapa ibu begini cepat meninggal ! Kenapa Bapak dan Ibu tidak mewariskan apa-apa padaku untuk bekal pendidikanku ? Padahal mereka berkali-kali mewanti-wanti diriku untuk kuliah sampai tuntas seperti semua kakak lelakiku. Tiba-tiba lelehan air mata sudah mengalir dipipiku. Membayangkan ketakutanku itu semakin membuat aku tersedu-sedu.

BENAR saja dugaanku. Kakak pertamaku Mas Bram dan kakak keduaku Mas Bas, menyampaikan padaku akan menjual tanah sawah warisannya. Dengan seribu satu alasan yang menurutku sebagian ia buat-buat dan sebagian memang masuk akal. Kedatangan mereka setelah sebulan kematian Ibu, mungkin sudah dirasa pantas untuk membicarakan nasib harta warisan itu.
Kukira, Mas Bram dan Mas Bas sudah bersekongkol membuat alasan untuk menjual tanah warisannya itu. ”Kamu kan tahu Yun. Aku sudah sibuk bekerja di Jakarta. Tidak mungkin juga aku mengurusnya sendiri. Tidak efektif,” kata Mas Bram.
”Aku juga begitu Yun. Lebih praktis tanah itu dijual dan uangnya didepositokan ke Bank. Lebih aman,” Mas Bas menimpalinya dengan penuh semangat. Perasaanku makin kacau. Rasa tidak terima menyeruak dari dalam batinku. Atas perjuangan orang tuaku yang membangun kekayaan tanah dari nol hingga mapan, kini dengan seenaknya saudara-saudaraku ingin menjualnya.
Duh…Bapak Ibu ! Lihatlah tingkah anak-anak lelakimu itu. Simbol kemapanan dan kejayaan kalian akan segera musnah. Bulir-bulir keringat yang sudah kelian keluarkan untuk menggarap sawah hingga keluar bulir padi menguning, akan segera berubah menjadi tumpukan uang. Dan sawah-sawah itu akan jatuh ke tangan orang lain ! Monumen apa lagi yang bisa mengingatkan orang di desa ini bahwa kalian pernah menjadi orang-orang yang sejahtera dan dermawan ?
”Apa tidak sebaiknya sawah-sawah itu digarap orang lain saja, Mas ? Dengan menggunakan sistem bagi hasil saat panen nanti. Saya kok ndak terima, mas-mas ini menjual tanah warisan Bapak dan Ibu,” ucapku pada kedua masku itu. Aku sadar, aku hanya anak perempuan, dan bungsu lagi. Apakah kata-kataku akan didengarkan ? Namun sungguh, aku sakit hati atas keremehan mereka memperlakukan harta warisan orang tua.
”Yuning……Yuning…..! Zaman seperti ini susah mencari orang yang bisa dipercaya. Meski pun di sini adalah pedesaan. Hanya akan nambahi beban pikiranku saja nanti !,” kilah Mas Bram. Kulihat Mas Bas manggut-manggut.
”Aku juga begitu Yun. Aku terlalu sibuk mikir kerjaan yang banyak menyita waktu. Dan menurutku, kalau tanah itu dijual modalnya bisa aku gunakan untuk nambahi modal usaha percetakanku di Semarang,” rasanya aku ingin meledakkan tangisku saat itu juga.
”Bukannya saya iri atau bagaimana Mas. Tetapi setidaknya, Mas Bram dan Mas Bas berpikir bahwa sawah warisan itu bisa menjadi bekal mas-mas kalau tua nanti dan siapa tahu ingin menghabiskan hidup di desa,” kataku dengan nada suara bergetar.
”Ah, kamu ini ngerti apa toh Yun. Yang nanti dipikir nanti lah,” ucap Mas Bas dengan suara sinis. Sejenak dari ujung mataku, Mas Bram ikut mencibir dengan angkuhnya. Ingin rasanya aku berteriak kepada dua lelaki pongah ini, bahwa keputusannya itu membuatku sakit hati. Bahwa kenapa mereka tidak memikirkan masa depanku ? Sekolahku yang sebentar lagi lulus. Biaya kuliahku bagaimana ?
Tapi lidahku kelu. Aku tidak berani berkata-kata lagi. Aku takut dikatakan iri, meri dan sakit hati karena tidak kebagian warisan tanah itu. Dan kalau sampai kalimat itu keluar dari mulut mereka, rasanya seumur hidup aku akan menanggung sakit hati. Padahal aku tak punya siapa-siapa lagi selain mereka. Aku diam.
Kini harapan terakhirku hanya Mas Narno. Ya….kalau sampai Mas Narno sampai punya niat serupa dengan dua masku itu, tamat sudah hidupku. Hilang sudah cita-citaku yang ingin menjadi bidan seperti harapan almarhum Ibu.
”Makan malam sampun siap Mas, Mbak. Monggo, dahar dulu,” kata Mak Nem tiba-tiba memecah kesunyian diantara kami bertiga. Dengan suasana begini, bagaimana aku bisa menikmati makan ? Namun kulihat Mas Bram dan Mas Bas beringsut dari kursinya menuju ruang tengah. Tempat makanan dihidangkan.
Aku masih termenung diruang depan. Menatap dua kursi kosong yang tadi diduduki dua kakakku. Sunyi ini kian menggigit. Bunyi jangkrik serta kodok sesekali terdengar. Aroma bunga pohon mangga di halaman sesekali menguar dan menghampiri indera penciumanku. Bunga mangga, kembang pelem. Pantas saja, kalau malam hawanya dingin sekali. Kata Ibuku, kalau pohon mangga mulai berbunga pasti dibarengi bediding atau hawa dingin yang mengigit. Aku mengeratkan sedakepan dua lenganku.
Kapan kira-kira Mas Narno akan datang ? Keputusan apa yang akan dia buat nanti atas rumah ini ? Dan siapa yang akan menentukan dan memutuskan masa depanku diantara anggota keluarga yang tersisa ini ?
Tekeeeeeek……….Tekeeeeeeeeeek………Suara tokek menyeruak diantara gendang telingaku. Tiba-tiba retina mataku mulai membasah. Sekelebat keriuhan saat kami berkumpul bersama Bapak dan Ibu dulu berkelindan dikepalaku. Aku yakin Mas Bram dan Mas Bas bisa mendengarnya diantara suapan-suapan sendok kemulutnya.
Namun, aku yakin mereka sudah tidak peduli dengan suara tokek itu. Yang ada dalam benak mereka hanya bagaimana cara menjual tanah warisan secepatnya ! Aku yakin Mas Bram sudah tidak butuh lagi suara tokek itu untuk meramal nasib kehidupan ekonominya. Selain sudah mapan, sebentar lagi hartanya akan bertambah.
”Lho ! Ndak makan toh Mbak Yuning ? Keburu dingin masakannya nanti. Saya buat sambel mentah, nggoreng lele, tempe dan lalapan segar. Kesukaan Mbak Yun. Itu Mas Bram sama Mas Bas, lahap banget makannya,” informasi dari Mak Nem semakin membuatku ingin menangis saja.
Lahap ? Tentu saja dua lelaki pongah itu lahap makan ! ”Nanti saja Mak Nem. Saya belum lapar,” kataku. Dia mengangguk sebentar dan berlalu dari sampingku. Sambel mentah, lele goreng, tempe dan lalapan. Menu idola kami sekeluarga.
Biasanya aku akan mendahului semua anggota keluarga makan demi mendapat jatah lebih banyak. Padahal, Mak Nem sudah punya strategi jitu. Saat semua masih sibuk dengan aktivitasnya dan aku sudah nongkrong di meja makan, diam-diam Mak Nem menyisakan beberapa ekor lele yang sudah digoreng.
Jadi seakan-akan jatah leleku memang paling banyak. Padahal begitu aku selesai makan dan anggota keluarga lain mulai berdatangan ke meja makan, Mak Nem mengeluarkan lele matang yang ia sembunyikan di bawah tutup kuali tanah liat.
Kapan Mas Narno akan datang ? Pikiranku kembali normal. Rasanya tidak perlu aku bertanya pada Mas Bram dan Mas Bas. Tidak berguna !

Hari yang mendebarkan itu tiba. Dua minggu setelah kepulangan Mas Bram dan Mas Bas kerumahnyan masing-masing, Mas Narno datang dari Solo. Sayang, dia tidak bersama istri dan tiga anak-anaknya. Padahal aku rindu keriuhan di rumah ini.
Mas Narno ini adalah pria yang sangat sabar dan pengertian. Beda dengan dua kakak lelakiku yag cenderung cuek dan agak arogan. Mas Narno ini beda. Ia mewarisi kelembutan dan sikap mengalah Ibuku serta sikap tegas dari Bapak. Tapi, dalam urusan warisan seperti ini apakah dia masih seperti itu ?
”Aku tahu, kamu sedang bingung dan resah memikirkan niat Mas Bram dan Mas Bas tentang warisan itu,” kalimat pembuka yang keluar dari mulut Mas Narno membuatku plong.
”Iya Mas. Mereka tidak memikirkan masa depanku sama sekali. Mentang-mentang sudah mapan dan aku hanya seorang perempuan,” gerutuku. Namun tiba-tiba Mas Narno terdiam lagi. Aku menjadi semakin resah. Apa sebetulnya yang ingin ia sampaikan. Atau jangan-jangan ia mendapat amanat atau wasiat dari Bapak atau Ibuku sebelum meninggal.
“Kamu pasti berpikir, kalau bapak dan ibu tidak ninggal apa-apa sama kamu, selain rumah ini yang dibagi dua dengan aku kan? Padahal kamu masih ingin kuliah” aku hanya mengangguk pelan. Duh, baik benar masku yang satu ini!
“Yun. Semua biaya pendidikanmu sudah dipikirkan bapak dan ibu sejak kamu masih SMP. Yaa….sejak aku dan Mas Bas dan Mas Bram kawin,” Mas Narno diam lagi.
“Ibu mewariskan padamu berupa asuransi pendidikan, Yun. Uang itu memang tidak bisa kamu pegang saat ini. Namun, uang itu akan cair saat kamu masuk bangku kuliah nanti dan semester per semester,” aku memejamkan mataku.
“Diam-diam ibu sering bicara dengan aku tentang warisan apa yang cocok untuk kamu selain benda mati. Apalagi kamu masih SMP saat itu. Dan kupikir, daripada uangnya di tabung di bank dan tidak punya nilai manfaat lain selain dapat bunga, aku sarankan ibu agar uangnya untuk mengasuransikan pendidikanmu. Selain untuk jaminan biaya pendidikanmu, kalau tidak salah juga ada nilai investasinya” air mataku mulai mengalir pelan dan bulir demi bulirnya jatuh ke pangkuanku.
“Nilainya, aku rasa lebih dari cukup untuk memberimu gelar sarjana atau pendidikan apa pun yang kau inginkan. Seratus juta Yun,” aku makin tidak bisa menahan tangis lebih lama dan memilih terisak-isak pelan.
”Dan untuk rumah ini……,” Mas Narno terdiam sejenak. “…..terlalu berharga kalau dijual. Aku memutuskan kau tempati saja. Siapa tahu nanti, kalau aku sudah pensiun ingin tinggal di sini. Banyak kenangan di rumah ini yang membuatku ingin kembali pulag Yun,” aku tak tahan menahan tangis dan keharuanku. Kutubruk tubuh Mas Narno dan kupeluk dia sambil menangis tersedu-sedu. ”Terima kasih Pak…..Buk…Mas Narno” aku terus terisak.(*)

SARUNG

“Pram ! mana sarungku le !!!” aku terkejut mendengar Mbah Kakung, pagi-pagi sudah bengak-bengok menanyakan kain sarungnya. Aku segera berjingkat menuju ke arah beliau yang berdiri sambil memegang daun pintu kamarnya. Celana komprang warna hitam yang keseharian ia pakai, nampak kedodoran sehingga harus diikat dengan tali kolor yang ditali wasul.
“Sarung yang mana to Mbah ?” tanyaku dengan halus.
“Yang itu lho Pram ! sing kotak-kotak warna Hitam dan Biru !” sebenarnya sarung itu tidak berwarna hitam dan Biru, tapi berwarna Hitam tidak hitam biru tidak biru. Dikatakan Bladus pun tidak pantas. Sangking sudah lamanya sarung itu bercokol dirumah ini. Entah kenapa Mbah Kakung begitu tergila-gila dengan sarung itu.
“Oalah, mbah- mbah ! wong sarung sudah jelek begitu kok tetep saja dicari-cari. Mbok ya pake sarung yang minggu kemarin dibelikan Ibu !”
“O….sarung Coklat itu to ! ndak Pram, rasanya gak kepenak kalo dipake. Ayo, carikan sana le ! aku mau ngaso dulu !” kulihat mbah Kakung beranjak dari daun pintu itu menuju kekamarnya yang terletak didekat dapur. Bila teringat dengan kamar itu, aku jadi tertawa sendiri. Waktu itu Bapak dan Ibu ingin sekali agar Mbah Kakung tidur dikamar depan saja, dekat ruang tamu ! tidak enak rasanya bila ada yang bilang orang tua kok ditaruh digudang. Dan mbah kakung menurutinya, tapi anehnya mbah kakung masuk kekamar itu kalao menjelang tidur malam saja. Selebihnya ia lebih senang berada dikamar dekat dapur itu. Pernah suatu kali aku memergoki mbah kakung keluar mengendap-endap dari kamar depan itu tengah malam.
Ketika kutegur beliau agak terkejut dan salah tingkah. “Wong aku gak krasan lan gak seneng, tidur disitu le ! tapi nggak enak kalo ngomong ke Ibumu. Dikiranya nanati sudah tua kok cerewet dan gak bisa diatur !” itulah jawaban beliau ketika itu. Dan ternyata beliau sering pindah kamar kedekat dapur itu bila tengah malam, aku jadi kasihan sekali. Akhirnya aku bicara dengan Bapak dan Ibu tentang keinginan Mbah kakung yang ingin diberi kamar didekat dapur saja.
“Ono opo to Pram ? Pagi-pagi mbahmu kok sudah teriak-teriak !” tiba-tiba Ibu sudah muncul dari belakang membawa segelas teh panas dan sepiring juadah goreng yang masih ngepul. Ibu tidak berubah, walaupun sudah memasuki usia lima puluh tahun sejak kematian bapak lima tahun yang lalu. Garis-garis kecantikannya masih nampak jelas diwajahnya yang masih berseri-seri itu. Ia tetap seperti Ibuku yang dulu. Penuh perhatian kepada seluruh keluarga. Andai saja bapak masih hidup, pasti hidup Ibu tidak sesepi ini. Hanya ada mbah Kung yang sudah berumur tujuh puluh delapan tahun, dan orang tua seperti itu rasanya tak mungkin bisa menjadi teman bicara Ibu bila dalam kesulitan.
“Pram ! Pramono !” suara Ibu yang agak keras membuyarkan lamunanku. Aku sedikit terperangah, lalu segera meraih cangkir teh itu.
“Pagi-pagi kok nglamun to Pram !”
“Ah, nggak bu !”
“Ada apa dengan mbahmu tadi “
“Mbah Kung menanyakan sarungnya yang sudah pantas jadi lap itu Bu !’ jawabku agak tersenyum.
“O…sarung yang itu. Mbahmu itu Pram, kalo sehari saja tak melihat dan memegang sarung itu rasanya seperti tak nyaman hidup ! Sudah berkali-kali Ibu berusaha ngomong agar sarungnya diganti saja dengan yang baru dan yamg itu disimpan saja. Tapi…ya dasar mbahmu, tetep saja keras kepala !” jelas ibu sambil menyisir rambutnya yang panjang dan berwarna keabu-abuan itu.
“Apa sakitnya mbah Kakung parah Bu !”
“Kata pak Dokter Burhan, tidak terlalu parah ! mungkin karena faktor usia yang membuat mbahmu tidak sehat fisiknya. Batuk-batuknya kalo malam kadang terdengar agak lama. Juga asmanya kalau musim bediding seperti ini sering kambuh, dan penyakit pikunnya itu lho Pram ! kalau sudah kumat…” Ibu hanya menggeleng-geleng kepala sambil menghela nafas panjang. Itu juga salah satu hal kenapa aku diminta pulang oleh Ibu secepatnya.
“Kamu disini lama kan Pram ! Jangan buru-buru pulang ke Semarang dulu ya. Sayang sekali karena kehamilan istrimu, tidak bisa ikut ! Juga adikmu si Retno dan Haris, tidak bisa pulang. Katanya tak bisa ambil cuti, soalnya sudah diambil waktu kita ada acara reuni keluarga bulan Januari kemarin !” kasihan Ibu. Seharusnya pada usia seperti ini beliau ada ditengah anak-anaknya. Tapi semua harus bekerja.
***
Keadaan mbah Kakung tidak ada peningkatan. Kalau malam batuknya malah nritil tak berhenti-henti, dan Ibu dengan penuh kesabaran tetap merawat mbah Kung. Dan sarung jelek itu tetap saja ditanyakan kalu tidak ada didekatnya. Kadang kerewelannya membuat Ibu kewalahan, apalagi bila disuruh makan atau minum obat. Dan tentu saja, kalo sudah begitu akulah yang harus maju. Membujuk-bujuknya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang serta kata-kata yang halus sekali. Hal yang jarang kulakukan sejak menikah.
“Mau dibawa kemana sarung itu Pah !!!” tanya mbah Kung ketika tahu Ibu mengambil sarung jelek yang menyelimuti tubuhnya yang semakin kelihatan renta itu dan menggantinya dengan sarung baru dan bersih. Mendengar mbah Kung memanggil nama Ibu ‘Pah” kadang aku tidak terimo ! wong nama bagus-bagus Musdalifah kok Cuma dipanggil Pah !. dan ibu hanya tertawa saja kalau aku komplain. “Pram…Pram…! Yo wis ben to. Memang lidah Jawa ya agak susah le !” jawab Ibu sambil mengacak rambutku jika aku ngadu rasa ketidaksukaanku itu.
“Ini mau dicuci dulu pak. Kan sudah seminggu lebih dipakai sama Bapak terus, baunya sudah ndak enak ! nanti sehabis dicuci dipakai lagi !”
“Ndak usah dicuci ! aku lebih suka baunya begitu ! ayo ! ganti sarung ini dengan sarungku !” kata Mbah Kung sambil menyingkap sarung yang baru saja dihamparkan Ibu di atas tubuh mbah Kung. Agaknya ibu tak habis kesabarannya.
“Bapak…, kalau sarung ini bau dan kotor begini, nanti Bapak nggak sembuh-sembuh lhoo… bapak kan belum sempat jalan-jalan sama Pramono mengelilingi Karang Anyar ini kan !” bujuk ibu dengan halus. Sesaat mbah Kung diam saja. Tapi tiba-tiba.
“Ndak usah Pah ! reget yo ben ! kalau aku seneng kamu mau apa !” kata mbah Kung yang mulai merengut dan marah seperti anak kecil. Ibu hanya geleng-geleng kepala sambil njereng kembali sarung jelek dan bau agak pesing itu, lalu melangkah keluar kamar mbah Kung sambil menatap kearahku. Seolah memintaku untuk bersikap sabar menghadapi kemauan mbah Kung. Beberapa malam ini aku selalu tidur bersama mbah Kung, takut terjadi apa-apa.
“Mbah Kung. Sebenarnya ada apa sih dengan sarung itu, saya kok jadi penasaran banget !” tanyaku hati-hati pada malam hari ketika Ibu tidak ada dirumah untuk ikut jama’ah Yasinan yang rajin diadakan setiap hari malam jum’at di Karang Anyar ini.
Sesaat mbah Kakung diam saja sambil matanya menerawang kelangit-langit kamarnya. Dan sarung itu, kali ini diletakkan disebelah kepalanya.
“Percuma Simbah ngomong Pram ! Kamu pasti akan menertawakannya. Bagi orang-orang seangkatanmu mungkin ini tak berharga. Lihat saja ibumu itu, selalu saja berusaha membuang sarung ini !” jawab mbah Kung yang kemudian memiringkan tubuhnya membelakangi aku yang duduk dikursi disamping dipan. Beliau memeluk sarung itu erat-erat. Kalau sudah begitu, berarti beliau sudah mau tidur dan tak mau diganggu lagi. Aku hanya menghela nafas panjang, lalu melangkah keluar menuju ke teras menikmati udara malam yang dingin desa Karang anyar.
Malam berikutnya aku terjaga ditengah malam ketika mbah Kung agak berisik ditempat tidurnya, tampak ia duduk sambil kepalanya celingukan mencari sesuatu.
“Ada apa mbah Kung !” tanyaku sambil ngucek-ngucek mata.
“Sarungku mana Le ! kok tidak ada ! Coba tanyakan sama Ibumu sana !” mbah Kung berkata sambil terus celingukan dan sesekali tangannya meraba-raba kasurnya dengan harapan menemukannya.
“Sudah tengah malam mbah ! besok saja ya ! mungkin tadi sore diambil ibu untuk dicuci. Kan sudah kotor sekali mbah, sudah hampir dua minggu tidak dicuci !”
“Pokoknya aku mau sarungku sekarang juga Pram !” mbah Kung mulai bertingkah seperti anak kecil. Aku bingung, mau membangunkan Ibu rasanya tidak tega. Sudah seharian mengurusi mbah Kung dan orang-orang disawah, pasti lelah sekali.
“Mbah….sebaiknya njenengan pake sarung yang ini saja dulu, lebih bersih dan tebal ! Besok pagi akan saya mintakan sarung punya mbah lagi ke ibu !” kataku sambil menghamparkan sarung itu diatas tubuhnya. Tapi dengan kasar, mbah Kung menepis sarung itu kesamping. Aku agak jengkel juga dengan sikapnya. Tapi, namanya juga orang tua, suatu saat nanti aku pasti mengalaminya (Insya Allah).
“Ya sudah kalau gak gelem ! Dasar anak jaman sekarang ! Tidak pernah mau mengerti !” kata mbah Kung sambil miring kekanan dan sesekali masih terdengar grundelannya. Aku menungguinya sampai beliau tertidur lelap, lalu menyelimutinya dengan sarung yang tadi di tepiskannya. Akupun tertidur lagi dengan nyenyak dihiasi mimpi. Aku bermimpi pohon pisang dibelakang rumahku roboh satu.
***
Pagi itu rumahku begitu ramai. Didepan rumah dipasang bendera warna putih polos yang melambai-lambai ditiup angin. Seolah menyambut kedatangan pelayat-pelayat yang mulai berdatangan baik dari desa Karang Anyar maupun dari tetangga sebelah. Mbah Kakung telah meninggal tadi malam. Semua saudara-saudaraku hadir semua, walaupu si Retno agak telat datangnya, menjelang jenazah mbah Kung di berangkatkan ke sarean. Ibu tampak tabah menghadapi peristiwa ini, sesekali ibuku itu mengusap air matanya yang meleleh tanpa disadarinya.
Sesudah pemakaman selesai aku duduk dikamar mbah Kung sambil memegang sarung jelek itu. Kupandangi barang itu lekat-lekat. Rasa penyesalan menjejali perasaanku, kenapa tidak kutanyakan dulu sarung itu pada Ibu malam itu. Kenapa aku tidak peka dengan keinginan terakhirnya itu. Pak Dhe Mul tadi bercerita, “Sarung itu memang sangat dicintai mbah Kung sejak dulu Pram !. Sama seperti ia mencintai mendiang istrinya dulu, mbah putrimu”.
“Lho… ?” tanyaku tak mengerti
“Sarung itu adalah saksi dari perjuangan mbahmu dulu saat bertempur melawan penjajah Jepang dulu. Sarung itu selalu mneyertainya kemanapun ia pergi. Juga saat bertemu dengan mbah putrimu yang saat itu juga berjuang sebagai petugas kesehatan yang mengurusi pejuang-pejuang yang terluka dimedan pertempuran. Dan dengan sarung itulah mbahmu dibebat lukanya oleh mbah putrimu saat terkena kelewang tentara Dai Nippong, karena kain perban persediaannya habis. Dan saat melahirkan Ibumu, aku, dan pak lek-pak lekmu yang lain, sarung itu ikut menjadi saksi kelahiran kami ! Dan banyak peristiwa-peristiwa lain yang dialami mbah Kungmu dengan sarung itu Pram !” akhirnya aku mengerti dengan apa yang diucapkan mbah Kung kemarin, tapi mbah Kung terlalu egois bila menganggapku tak bisa menghargai arti dari sebuah nilai.
Aku hanya menghela nafas panjang, lalu bangkit dari dipan mbah Kung dan meletakkan sarung itu di atas bantalnya.

PRANG !!! Keheningan tengah malam itu terkoyak suara benda yang jatuh berantakan. Aku yang sedang terlelap bersama gadis tiga tahunku, langsung membuka mata dengan detak jantung memburu. Suara apa kah itu. Antara sadar dan tidak, aku berpikir cepat mungkin itu suara kaca pecah.
Tapi kaca siapa. Aku melirik jam dinding. Pukul 23.55 WIB. Hampir jam 12 ! Keheningan yang tenang itu seperti tersobek-sobek. Aku melangkah ke kamar tengah. Berusaha mencari sumber suara yang
memekakkan telinga di tengah malam yang hening itu.
Kuletakkan telinga dan mataku diantara celah kaca kamarku yang tertutup tirai. Duh gusti allah ! Pintu rumah Mbak A terbuka. Dan pecahan kaca nako berantakan di luar rumahnya yang tepat berhadapan dengan kamarku.
Aku bisa melihat jelas kaca nako hitam itu pecah berkeping-keping dan tercecer di teras. Sementara kudengar dengan sejelas-jelasnya suara Mas Y yang mengintrogasi Mbak A, istrinya. Dengan suara yang terdengar jelas ditelingaku pula, Mas Y bertanya dengan geram, dengan siapa Mbak A telepon tengah malam seperti itu.
Bahkan sesekali terdengar suara bak buk dan plak. Pasti Mas Y ‘turun tangan’ sama Mbak A ! Aku gemetar dan tegang mendengarnya. Namun mata dan tubuhku tidak besa bergeser dari samping jendela kamarku. Menikmati adegan terlarang itu.
Semakin lama Mas Y semakin terdengar beringas dengan tindakannya. Bahkan ia juga bilang, “Yen gak ngomong tak kuaplok lho kowe engko !! Hayo sopo sing kok telepon bengi-bengi ngene ? PLAK !! Tak antem helem lho kowe nek gak ngaku !” aku memejamkan mata.
Sesekali Mbak A hanya bilang “ Ora Mas…Ora mas…..Wis talah mas !” tapi sepertinya Mas Y tidak peduli dan terus ‘turun tangan’ menyiksa istrinya. Lalu kudengar lagi Mas Y bilang, “Rumangsamu aku gak krungu kowe ngomong opo ! Kit mau aku lungguh ning njobo ! Krungu karo sopo wae kowe telepon ! Ayo ! Ngomongo, sopo sing kok telepon ! Wong lanang endi !!! He?? BUG !!!” terdengar lagi suara yang kuduga pasti Mas Y memukul Mbak A yang berbadan gemuk itu.
Oooo, baru nyambung aku sekarang. Ternyata diam-diam Mas Y pulang ke rumah tapi tidak langsung masuk rumah. Ia milih duduk diluar rumah dan nguping dari luar apa saja yang dilakukan istrinya dikamar. Kebetulan kamarnya di depan. Dan posisi rumah Mas Y itu hanya berjarak satu meter dengan rumahku. Kami adalah tetangga bersebelahan.
Lebih kaget lagi aku mendengar Mas Y bilang, “Ayo mulih ning tulung agung ! Nek gak gelem, pegatan ae ! Ngono kuwi kowe jeneng selingkuh !! Ngono kuwi tah, kelakuanmu nek aku gak ning omah !” katanya dengan diakhiri suara plak plak !!!
Mungkin baru malam itu Mas Y mendengar dengan telinganya sendiri tentang tingkah laku istrinya jika ia tidak di rumah. Ya, selama ini Mas Y jarang di rumah. Ia lebih sering di rumah orang tuanya di Tulung Agung. Mbak A, istrinya tentu saja sendirian di rumah. Dan kata tetangga-tetangga yang kebetulan ngomong tanpa ku undang, kalau Mbak A harus menghidupi diri sendiri.
Maka, banyak lah omongan yang tidak bertanggung jawab tentang Mbak A ini. Tapi kalau soal telepon tengah malam yang dilakukan Mbak A, aku memang sering mendengarnya sendiri. Dari omongannya, telepon Mbak A menurutku bukan dengan suami, saudara atau temannya. Tapi omongan di telepon yang kulakukan saat aku masih ‘pacaran’ dengan suamiku.
Kadang mesra ditambahi cekikikan dan lamaaaaaaaaaaaaaa banget ! Persis saat aku masih pedekate sama mantan pacarku yang kini jadi suamiku.
Kembali ke Mbak A. Menurutku Mbak A ini juga keterlaluan. Dengan leluasa, saat Mas Y tidak di rumah, ia membiarkan tamu laki-laki yang kata tetangga adalah juragan Mas Y bekerja, kerumahnya. Tidak hanya 5 atau 10 menit. Berjam-jam ! Parahnya lagi, begitu datang si laki-laki yang ia panggil “AYAH” itu sudah menganggap rumah Mas Y seperti rumah sendiri. Ini kulihat dan kudengar sendiri.
Sekali lagi posisi jendela kamarku tepat berada di pintu masuk rumah Mas Y. Apalagi rumah Mas Y ini laiknya sebuah kamar kos. Kecil ! Hanya ada dua ruang dipisahkan dinding tak berpintu !
Begitu datang lepas sepatu, ganti baju (ada yang lihat ganti pakai sarung) dan tidur-tiduran seenaknya. Parahnya lagi, si laki-laki tadi datang bersama perempuan yang kata Mbak A kalau ditanya tetangga adalah “istrinya” ! Padahal, kata tetangga lagi, itu adalah pacar gelap dan pinjam tempat Mbak A untuk kencan. Masya allah ! Semua info itu mampir sendiri ketelingaku tanpa kuundang ! Ya allah…kenapa kau perdengarkan semua itu ditelingaku !

Pasangan yang bahagia. Pasangan yang serasi. Pasangan yang saling mengerti. Pikiran itu yang selalu memenuhi otakku, kala pagi aku hari aku melakukan ritual menempelkan kepala di pinggir jendela kamarku setelah bangun tidur. Menatap pasangan suami istri di samping rumahku yang hampir dua bulan ini menempatinya. Perilaku mereka yang setiap hari menyajikan keharmonisan bak lukisan indah pagi hari.
Pagi ini dengan blouse warna merah marron, si Istri mengantar suaminya memasuki mobil dan menghantarkan hingga mobil hilang dari pandangan. Adegan sebelum itu terjadi, adalah pemandangan menyejukkan ketika istri itu menemani suaminya minum kopi di beranda samping rumahnya yang kebetulan tepat berhadapan dengan jendela kamarku. Ciuman lembut menghampiri keningnya, saat kopi suaminya sudah habis dan ia beranjak berdiri.
Dan pagi – pagi selanjutnya pemandangan indah itu lah yang menghiasi awal pagi Prasasti, namaku. Di mulai dari tepi jendela kamarku yang berkorden merah menyala. “Pasti mengintip lagi” tiba-tiba suara ibunya sudah berada diambang pintu kamarku. Aku hanya tersenyum lebar sambil menarik kepalaku dari tepi jendela dan membenamkanya di bantal ku tutup selimut.
“Ayo Sasti mandi dulu, sudah siang. Kamu harus segera berangkat kerja” suara ibu terdengar semakin mendekat. Tiba-tiba aku ingin sekali bertanya sesuatu. Ku buka selimut yang menutup wajahku.
“Bu, apa waktu ayah masih hidup dulu, juga seperti pasangan di sebelah rumah kita ini. Saya kan jarang di rumah bu waktu masih kuliah dulu” tanyaku dengan air muka serius. Ibu ku hanya tersenyum saja. Sekilas ia melihat keluar jendela kamarku, dan menatap beranda yang setiap pagi kupelototi itu. Nampak istri itu sedang duduk membaca koran yang tadi di baca suaminya.
“Mbak Santika yang lembut, sabar dan pengertian. Sudah hampir dua bulan ya Sas, mereka menempati rumah itu” ibu malah beralih pembicaraan. “Ibu ! Jawab dong !” ucapku pelan sambil menggoyang-goyang lengannya yang lembut terbungkus kulit tuanya, sekilas kurasakan tulang ibu yang mengeras.
“Rumah tangga itu seperti ombak Sas. Dan kadang seperti air tenang” jawab Ibu pelan, lalu beranjak dari tempat tidurku melangkah keluar. Dengan wajah datar. Tak ada keinginan dihatiku untuk tahu lebih lanjut, dengan kata-kata ibu. Aku pun ikut bangkit dari tempat tidurku dan melipat selimut biruku. Kembali mataku menembus kaca jendela kamarku yang berwarna gelap dari luar ini. Namanya Santika, aku menggumam sendiri. Terasa segar air yang mengguyur tubuhku pagi ini.
***
Seminggu terakhir ini ada yang lain dengan pemandangan indahku di pagi hari. Jika pagi kemarin si istri masih mengantar hingga pintu pagar dan menanti wujudnya hilang dari pandangan matanya, pagi ini suami itu keluar sendiri dari pintu rumahnya. Juga tak ada bincang-bincang sambil minum kopi di beranda samping rumahnya, ciuman lembut dikening pun sudah tak nampak dipandanganku.
Bahkan kini, terkadang suara-suara bising dan ribut sering terdengar hampir tiap malam dari rumah Santikan. Aku tak tahu pasti suara apa itu. Seperti piring kaca jatuh, perabot dari kayu yang digeser-geser dengan kasar atau suara benda yang dilempar hingga meninggalkan bunyi yang terdengar keras di malam buta.
Dan istri itu, kini punya kebiasaan baru. Setelah suaminya berangkat kerja, dirinya juga keluar naik taxi. Ada apa ? Ternyata pagi-pagi selanjutnya juga demikian. Beranda samping rumah itu kini seperti dilupakan oleh keduanya.
Begitu panas cuaca malam ini, kumatikan lampu kamarku dan membuka jendela lebar-lebar. Sesaat semilir angin malam mengusap wajahku. Kutatap beranda itu, baru ku tahu kalau malam hari lampunya sangat redup. Bunga-bunga disekitarnya nampak seperti bayangan raksasa berwarna hitam pekat.
Tiba-tiba sesorot cahaya terang memasuki halaman rumah itu. Sebuah mobil warna biru metalik. Aku melirik jam dinding, sudah jam sebelas lebih. Rupanya suami itu yang turun dari dalamnya.
“Tok ! Tok ! Tok ! “ ketukan yang terdengar kasar itu jelas sekali tertangkap telingku. Tak ada yang berubah. Dia mondar mandir sejenak di beranda. “Brak ! Brak ! Brak!” tiba-tiba pintu itu digebrak dengan satu tangannya, rupanya kesabarannya mulai habis.
Tak berapa lama kemudian, istri yang kata ibu bernama Santika itu, muncul dari balik daun pintu dengan baju yang terlihat dari pandanganku masih rapi. Kulihat sesaat mereka berpandangan.
“Kau mau kemana !” tanya suaminya kepada Santika, dengan suara datar yang terdengar jelas ditelingaku di malam yang senyap itu.
“Aku mau kemana itu bukan urusanmu. Kau pun pergi kemana aku juga tidak tahu!” sepertinya itulah jawaban yang keluar dari mulut Santika. Aku semakin seksama dan serius menyimak adegan didepanku yang hanya berjarak sekitar empat meter ini.
“Jawab ! Kau mau kemana malam-malam begini!” suaranya semakin kasar saja. Santika kemudian duduk dikursi beranda diikuti suaminya.
“Itu adalah urusanku. Mas tidak berhak tahu kemana aku akan pergi, kenapa aku pergi dan dengan siapa aku pergi. Aku sudah capek dengan kelakuanmu beberapa minggu ini, dengan telpon-telpon perempuan yang hampir setiap hari mencarimu dengan alasan tak jelas” suara Santika begitu tertekan.
“Mereka adalah rekan kerjaku San. Tidak lebih ! Aku setiap hari pulang malam kan juga untuk dirimu dan masa depan kita” jawab suaminya.
“Selalu itu yang kau jadikan kambing hitam. Aku tidak hanya empat kali atau sepuluh kali menerima telponnya, tapi hampir setiap jam ! Katakan saja jika kau mulai tertarik dengan perempuan itu” kata-kata Santika yang terakhir rupanya membuat suaminya naik darah. Tiba-tiba ditariknya tangan Santika dengan kasar ke dalam rumah, kemudian pintu itu ditutup dengan kasar.
Jantungku berdetak semakin cepat. Pemandangan yang baru saja, layaknya adegan belakang panggung pertunjukkan. Tak lama kemudian, suara-suara berisik dan ribut terdengar lagi dari rumah itu. Bahkan kini sempat terdengar pula suara pekikan tertahan Santika. Kemudian diikuti suara benda jatuh. Dadaku semakin berdegup. Tiba-tiba keringat dingin menetes dari dahiku. Apakah hanya aku yang mendengar ini. Adakah orang lain ? Tanyaku. Ingin rasanya aku membangunkan ibu, tetapi segera kuurungkan niatku.
Beberapa saat kemudian, tak terdengar suara apa-apa dari rumah itu. Sepi. Apa yang terjadi di rumah itu.
“Brak !” tiba-tiba aku tersentak oleh bunyi yang terdengar sangat keras dari rumah itu. Seperti bunyi pintu yang ditutup dengan sangat kasar, bahkan mungkin juga sengaja dibanting. Aku semakin merinding. Dan rasanya ingin mendatangi tempat itu segera, untuk melihat keadaan Santika.
Sepi lagi. Tak terdengar suara apa-apa lagi. Aku mengusap peluhku, jam dinding menunjukkan angka dua belas lebih tiga puluh empat menit. Perlahan aku menutup jendela dengan sangat pelan dan hati-hati. Kerebahkan tubuhku. Pikiranku masih dipenuhi adegan yang baru saja ku lihat. Ada apa dengan mereka ? Apa yang terjadi ? Suara-suara apakah itu ? Mataku susah sekali untuk ku ajak mengantuk. Hanya membalik-balikkan badan saja. Tak habis mengerti.
***
“Sasti ! Prasasti ! Bangun !” tiba-tiba suara ibu terdengar dari luar kamar sambil menggedor-gedor pintu kamarku. Tidak seperti biasanya. Sesaat aku menguap dan mengucek mataku sebentar.
“Ada apa sih Bu, kok seperti tergesa-gesa begitu” tanyaku bermalas-malasan.
“Santika membunuh suaminya”
“HAH !” aku hanya membelalakkan mata. Kepalaku seperti tertimpa batu berton-ton. Aku segera lari ke teras rumahku. Kulihat banyak orang sudah bergerombol di mana-mana. Polisi pun juga hilir mudik ke sana kemari. Ada yang berjaga-jaga di sekitar rumah itu.
“Kata pak polisi yang ibu tanyai tadi, Santika sendiri yang melaporkan kejadian itu lewat telpon. Dan katanya pula dia mengakui kalau dia telah membunuh suaminya” aku menatap ibu dengan tajam sesaat. Pikiranku melayang saat itu. Aku tak bisa berkata apa-apa.
Tiba-tiba kulihat Santika digiring keluar oleh dua orang polisi, tetapi dua tangannya tak diborgol. Kupelototi wajah Santika. Ada lebam-lebam biru di wajahnya yang putih. Dan matanya, terlihat sembab, merah dan kosong. Beberapa orang yang ia lewati ada yang mencibir dan menatapnya dengan sinis. “Wong suaminya sendiri kok di bunuh. Perempuan macam apa itu !” tertangkap jelas ucapan seorang laki-laki yang ada dalam gerombolan orang-orang disekitar rumah Santika.
Santika terus melangkah dengan wajah terangkat. Sesaat sebelum memasuki pintu mobil polisi, tiba-tiba Santika melempar pandangannya ke arahku sambil tersenyum samar. Aku tercekat dan darahku berdesir***